Mitologi Politis Nyi Roro Kidul


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selama ini, orang sering menyebut adanya Kanjeng Ratu Kidul dan juga ada yang menyebut Nyi Roro Kidul. Namun banyak yang tidak tahu bahwa Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul sebenarnya berbeda.

Kanjeng Ratu Kidul itu adalah kepercayaan atau suatu mitologi yang dipercayai di Jawa sebagai roh suci dari Kayangan yang mendapat tugas menjadi penguasa Lautan Selatan atau dalam bahasa Jawa-nya Segoro Kidul. Sedangkan Nyi Roro Kidul sangat terkenal di Sunda. Dalam kepercayaan Sunda, dikisahkan ada seorang Putri Raja Sunda yang bernama Dewi Kadita Putri. Nama Raja dan kapan kisah ini terjadi tentu saja tidak dijelaskan karena ini adalah sebuah cerita mitologi yang berkembang di masyarakat.

Dalam kisahnya Dewi Kadita tiba-tiba mengalami penyakit kulit serupa kudis, yang diakibatkan oleh guna-guna, maka Dewi Kadita diusir dari istana. Karena sedih dan putus asa, Dewi Kadita melompat ke laut selatan. Namun secara ajaib Dewi Kadita muncul kembali dengan kekuatan gaib dan penyakit kulit yang dideritanya sembuh. Dewi Kadita akhirnya memutuskan untuk tidak kembali ke istana dan menjadi Ratu bagi seluruh makhluk halus di Segara Kidul dan pantai selatan.

Di Jawa Nyai Roro Kidul adalah sosok pengawal Kanjeng Ratu Kidul. Kanjeng Ratu Kidul sendiri baru disebutkan dalam literatur jawa pada Serat Centhini yang ditulis pada 1814. Jadi Kanjeng Ratu Kidul tidak disebutkan dalam serat atau pustaka sebelum itu, seperti pada Pustaka Wedha Sasangka yang ditulis pada tahun 911 sebelum masehi, atau pada Kakawin Arjunawiwaha yang ditulis 2000 tahun kemudia pada tahun 1026 masehi. Kisahnya di dalam Serat Centhini sebagai berikut. Dikisahkan di Kerajaan Medang Kamulan dipimpin oleh raja yang zalim yaitu Prabu Dewata Cengkar. Seorang pengembara yang peduli dengan penderitaan rakyat Medang, menantang Prabu Dewata Cengkar dengan menawarkan dirinya untuk ditumbalkan oleh Prabu Dewata Cengkar namun dengan satu syarat. Syarat itu adalah Aji Saka meminta imbalan atas penumbalan dirinya berupa tanah seluas lebar sorban yang dipakai di kepalanya.

Karena syarat itu dianggap remeh maka Prabu Dewata Cengkar menyangupinya. Aji Saka mempersilahkan san Prabu untuk menarik sorban di kepalanya agar tahu seluas apa tanah imbalan yang dimintanya. Ketika Prabu Dewata Cengkar menarik sorban dari kepala Aji Saka, ternyata sorban tersebut terurai menjadi sebuah gelombang yang sangat besar dan kuat hingga membuat Prabu Dewata Cengkar terdorong jatuh ke dalam laut selatan. Begitu Prabu Dewata Cengkar menyentuh permukaan air laut selatan, seketika itu pula ia berubah wujud menjadi seekor Buaya Putih.

Di dalam wujud buaya putih, Prabu Dewata Cengkar berusaha membangun kerajaan baru di dalam laut selatan. Sang penguasa asli laut selatan yaitu Putri Angin-Angin, merasa terusik dengan niat dan kehadiran Prabu Dewata Cengkar. Sejak saat itu, satu sama lainnya menjadi musuh bebuyutan.

Di dalam kisah ini sebenarnya Putri Angin-Angin adalah sebuah simbol matriarkat. Dalam masyarakat Nusantara sosok perempuan atau Ibu memiliki peran dan posisi penting di dalam keluarga bahkan berkuasa. Hingga saat ini masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat masih menggunakan sistem matriarkat. Aji Saka yang berhasil menggantikan Prabu Dewa Cengkar sebagai Raja Medang Kamulan, juga merupakan simbol penguasa yang silih berganti. Hal yang menarik adalah Serat Centhini ditulis pada awal abad ke 19 yang kita sama-sama ketahui berbarengan dengan pemindahan kekuasaan Jawa dan Nusantara dari VOC ke pemerintah kolonial Belanda.

Serat Centhini sendiri diprakarsai oleh Adipati Anom Amengkunegara III, pada tahun 1814. Ia membentuk tim penulis yang terdiri dari pujangga-pujangga kerajaan. Enam tahun kemudian yaitu pada tahun 1820 Adipati Anom ini diangkat sebagai Sunan Pakubuwana V. Setelah diangkat Sunan Pakubuwana juga melakukan perombakan pujangga penulis Serat Centhini, beliau bahkan juga memberikan ide-ide penulisan secara langsung, di masa inilah kisah Putri Angin-Angin muncul, hingga akhirnya beliau wafat pada 1823 dan penulisan Serat Centhini dirampungkan.

Di dalam kompilasi manuskrip Babad Tanah Jawi,juga dikisahkan tentang perkawinan gaib Panembahan Senopati dengan Ratu Laut Kidul. Pada kenyataanya kisah atau mitos ini diciptakan sebagai kompensasi legitimasi Panembahan Senopati, yang tidak diakui sebagai trah penerus Sultan Hadiwijaya oleh Sunan Giri Kedaton yang pada saat itu menjadi pusat legitimasi spiritual dan memegang restu pengangkatan seorang Raja. Itulah mengapa Danang Sutawijaya menggunakan gelar Panembahan Senopati dibanding menggunakan gelar Sunan atau Sultan.

Mitos Kanjeng Ratu Kidul ini diciptakan untuk menyaingi reputasi kerajaan-kerajaan di pesisir utara pulau jawa yang direstui secara agama oleh Sunan Giri Kedaton. Karena Mataram letaknya lebih menjorok ke selatan dan dekat dengan pantai selatan Jawa yang tidak digunakan untuk jalur perdagangan, maka dibangunlah reputasi kekuatan gaib melalui mitos tersebut.

Bahkan sejak masa Sunan Pakubuwana I diadakan tradisi setiap upacara Jumenengan, yaitu upacara adat penobatan atau peringatan naik takhta raja (Sultan/Sunan) disiapkan kursi kosong disamping Raja sebagai simbol tempat duduk Ratu Kidul (Ratu Spiritual raja Mataram).

Disinilah kita sebagai anak bangsa harus memahami dan mengetahui sejarah bangsa dan leluhur, agar kita tidak mudah dijerumuskan oleh bangsa luar yang ingin memecah belah dan memanfaatkan bangsa Indonesia dan masyarakat Nusantara.

Meskipun jika ditilik dari kisah diatas mitos ini merupakan sebuah adaptasi dari perkembangan kondisi politik dan masyarakat yang ada, namun tidak dapat dipungkiri kisah magis dan spiritual yang dikaitkan dengan keberadaan Ratu Laut Kidul, masih eksis dan dipercayai oleh banyak masyarakat di Indonesia. Sebuah mitologi yang benar-benar diyakini dan dipercayai maka akan memberikan energi dan menciptakan dimensi bagi orang-orang yang mempercayainya sehingga mitos pun dapat menjadi kenyataan.